Minggu, 18 Desember 2011

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

A.    PENGERTIAN
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dimana pengertiannya sebagai:
1.      Infeksi
Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2.      Saluran pernafasan
Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
2.      Infeksi Akut
Adalah Infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
Jadi, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh masuknya kuman mikroorganisme (bakteri dan virus) kedalam organ saluran pernafasan yang berlangsung selama 14 hari.
ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup membahayakan. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa.
Kejadian psenyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun.. 40 % - 60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % - 30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan.

B.     PENYEBAB ISPA
ISPA dapat ditularkan  melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene.
 Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.

C.    TANDA DAN GEJALA ANAK TERSERANG ISPA
1.       Pada sistem pernafasan adalah: napas tak teratur dan cepat, retraksi/ tertariknya kulit kedalam dinding dada, napas cuping hidung/napas dimana hidungnya tidak lobang, sesak kebiruan, suara napas lemah atau hilang, suara nafas seperti ada cairannya sehingga terdengar keras
2.       Pada sistem peredaran darah dan jantung : denyut jantung cepat atau lemah, hipertensi, hipotensi dan gagal jantung.
3.       Pada sistem syaraf adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, kejang dan coma.
4.       Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

D.    TANDA BAHAYA ANAK HARUS DIBAWA KE PUSAT PELAYANAN KESEHATAN
1.      Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah:
-          tidak bisa minum,
-          kejang, kesadaran menurun,
-          stridor dan gizi buruk.
2.      Tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah:
-          Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya):
-          kejang,
-          kesadaran menurun,
-          mendengkur,
-          mengi,
-          demam
-          dingin
Bila terdapat salah satu tanda di atas, maka anak harus segera dibawa ke petugas atau sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan.

E.     AKIBAT LANJUT ISPA
1.      Mudah terserang penyakit
2.      Dapat timbul kejang sehingga anak menjadi lemah, bodoh, dan bisa meninggal
3.      Dapat menular pada anggota keluarga lain
4.      Peradangan pada hidung atau sinusitis
5.      Infeksi dalam telinga


F.     PENANGANAN ISPA
1.      Mengatasi panas
Demam untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es). Lokasi pengompresan pada anak demam bisa dilakukan pada dahi, leher, ketiak, abdomen dan lipatan paha. Namun apabila demam terjadi pada bayi dibawah 2 bulan harus segera dirujuk.
2.      Mengatasi batuk.
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis 1/2 sendok teh dicampur dengan kecap atau madu 1/2 sendok the diberikan tiga kali sehari
3.      Pemberian makanan.
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah.Pemberian ASI pada bayi yang menyusui tetap diteruskan.
4.      Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya.Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
5.      Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

G.    PENCEGAHAN ISPA
1.       Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama
-          Menjaga kebersihan perorangan
-          Memperhatikan kebersihan lingkungan, apalagi pada saat musim hujan peluang penyebaran penyakit akan lebih besar.
-          Bukalah jendela setiap hari agar udara segar dapat masuk ke dalam kamar.
-          Jaga kebersihan tempat tidur anak, ganti seprei dan jemur kasur seminggu sekali.
2.       Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
3.       Memberikan gizi yang cukup pada anak
-          Menyusui anak sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.
-          Berikan anak makanan padat sesuai kebutuhannya.
-          Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan
4.       Melakukan imunisasi dasar yang lengkap untuk menambah kekebalan tubuh pada anak.
5.       Mengurangi kontak dengan penderita ISPA.
6.       Segera ke sarana kesehatan apabila memiliki gejala-gejala ISPA.

Depkes RI. 2000. Pedoman Program Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan  Akut
Untuk Penanggulangan Pnemonia Pada Balita. Jakarta: Depkes RI

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:
FKUI.

Puhiadi. 1992. Bayiku Sayang. Jakarta: FKUI.
Yusri. 2011. Pencegahan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut. From: http://turunberatbadan.com/1683/pencegahan-ispa-infeksi-saluran-pernapasan-akut/, diakses tanggal 18 Desember 2011

Bagi yang ingin melihat contoh SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) mengenai INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT silahkan klik disini yaaa ^_^

Jumat, 09 Desember 2011

Metode Kontrasepsi Alamiah

A.    Metoda Kalender
sering juga dikenal sebagai metoda ogino knaus dan mulai dipergunakan sejak tahun 1930. menurut ogino ovulasi biasanya terjadi pada hari ke 14 sebelum haid yang akan datang, tapi dapat terjadi pada hari ke 12 dan hari ke 16 sebelum haid. jadi ke 5 hari itu merupakan masa yang terlarang untuk koitus.
Karena sel sperma dapat hidup selama 3 hari dalam alat reproduksi wanita maka di tambahkan hari ke 17 dan ke 18, kemudian ditambahkan 1 hari lagi yaitu hari ke 11, untuk hidupnya sel ovum sehingga masa subur menjadi 8 hari pada siklus 28 hari, yaitu pada hari ke 11 sampai hari ke 18.
Yang paling menyulitkan pada metode kalender adalah pada wanita yang siklus haidnya tidak teratur setiap 28 hari. Misalnya : Pada siklus haid tidak teratur yang bervariasi antara 25 dan 32 hari, maka masa aman pre ovulasi diperoleh dengan mengurangi 18 hari dari yang terpendek (25-18 = 7) dan masa aman post ovulasi dengan mengurangi 11 dari siklus yang terpanjang (32-11 = 21) maka masa tidak subur adalah sebelum hari ke 7 dan sesudah hari ke 21.

      B.Metode Suhu Basal
Dasar dari metode ini adalah naiknya suhu basal pada waktu ovulasi karena kadar progesteron naik. Kenaikan suhu antara 0,3 – 0,5 o C. Kenaikan suhu ini dapat terjadi segera atau secara berangsur-angsur dan terus menerus, dengan bentuk tangga atau seperti gambaran gigi gergaji. Kadang-kadang penurunan suhu mendahului kenaikan suhu.
Suhu basal harus diukur dengan termometer yang khusus dan dicatat pada kartu grafik tertentu. Karena yang paling penting adalah perubahan suhu dan bukan nilai absolutnya, maka pengukuran harus dilakukan setiap hari, yaitu pada pagi hari sebelum bangun dari tempat tidur dan sebelum makan atau minum.
Pengukuran ini secara oral (3 menit) atau rektal (1 menit). Kekurangan dari cara ini adalah kita hanya dapat menentukan masa aman post ovulasi. Karena itu sering dikombinasikan dengan metode kalender untuk menentukan masa tidak subur pre ovulasi.
Jadi, pelaksanaannya sebagai berikut :
Masa aman pre ovulasi ditentukan dengan metode kalender atau dengan mengurangi 6 hari dari kenaikan suhu yang paling dini yang telah tercatat selama 6 bulan. Masa aman post ovulasi adalah 3 hari setelah kenaikan suhu basal.
Metode suhu basal tidak dapat digunakan pada remaja dan dalam klimakterium, karena sering siklus yang ovulatoir diselingi denga siklus yang anovulatoir.

C. Coitus Interuptus

a.       Pengertian

            Coitus interuptus atau biasa dikenal dengan senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.
            Coitus interuptus merupakan salah satu usaha kontrasepsi yang paling tua. Cara ini paling banyak dipergunakan di benua Eropa pada abad ke 18 dan 19 dan memegang peranan penting dalam pembatasan penduduk. Kira- kira 50 % dari suami istri mempergunakan nya pada saat itu.
            Walaupun demikian, cara ini tentu ada kegagalannya tapi tidak kalah dengan hasil pasangan yang menggunakan kondom dan diafragma. Dulu dikatakan bahwa coitus interuptus dapat menyebabkan hipertrofi prostat, impotensi dan bendungan panggul, namun bukti ilmiah tidak ada. Tapi kalau salah satu anggota dari pasangan tidak menyetujuinya, dapat menimbulkan ketegangan dan dengan demikian mungkin merusak hubungan seksual.
            Cara ini tentu memerlukan suami yang bertanggung  jawab dan dengan kemauan yang cukup besar, tapi mudah diterima karena merupakan cara yang dapat dirahasiakan dan tidak usah minta nasehat pada orang lain.

b.      Cara Kerja
Alat kelamin ( penis) dikeluarkan dari vagina sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk  ke dalam vagina sehingga tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum dan kehamilan dapat dicegah .

c.       Manfaat
Ø  Kontrasepsi
·         Efektif bila dilaksanakan dengan benar
·         Tidak mengganggu produksi ASI
·         Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya
·         Tidak ada efek samping
·         Dapat digunakan setian waktu
·         Tidak membutuhkan biaya
Ø  Non Kontrasepsi
·         Meningkatkan keterlibatan suami dalam KB
·         Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan
pengertian yang sangat dalam.

d.      Keterbatasan
·         Efektifitas sangat tergantung pada kesetiaan pasangan untuk melakukan senggama terputus (angka kegagalan 4-27 kehamilan/ 100 perempuan per tahun)
·         Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis
·         Memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual

e.       Indikasi
·         Suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam KB
·         Pasangan yang taat beragama atau mempunyai alasan filosofi untuk tidak memakai metode- metode lain
·         Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera
·         Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode yang lain
·         Pasangan yng membutuhkan metode pendukung
·         Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur

f.       Kontraindikasi
·         Suami dengan pengalaman ejakulasi dini
·         Suami yang sulit melakukan senggama terputus
·         Suami yang memiliki kelainan fisik dan psikologi
·         Istri yang mempunyai pasangan yang sulit bekerja sama
·         Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi
·         Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus

g.      Konseling untuk klien
·         Meningkatkan kerja sama dan sebelum melakukan hubungan seksual dan pasangan harus mendiskusikan dan menyepakati pengguanaan merode senggama terputus
·         Sebelum berhubungan pria terlebih dahulu mengosongkan kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya
·         Apabila merasa akan ejakulasi, pria segera mengeluarkan penisnya dari vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina
·         Pastikan pria tidak terlambat melaksanakannya
·         Senggama tidak dianjurkan pada masa subur


DAFTAR PUSTAKA

Bari Saifuddin , Abdul.2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo

Mola Hidatidosa


1.1 Definisi
Mola hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villus korialis langka vaskularisasi, dan edematous. (Sarwono, 2007). Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339).
Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofik. Uterus dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi yang normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur (Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, 2000 dan Unpad, Obstetri Patologi, 1984).
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 238).
Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104). Biasanya kehamilan mola terjadi di dalam uterus, tetapi kadang-kadang terdapat juga di saluran telur ataupun ovarium. Secara umum mola hidatidosa adalah:
·         Kehamilan yang berkembang tidak wajar
·         Tidak ditemukan janin
·         Hampir seluruh villi korialis mengalami perubahan hidropik
·         Bila disertai janin atau bagian janin disebut Mola parsial
·         Pembuahan sel telur yang kehilangan intinya atau inti tidak aktif lagi

Gambar 2.1 Mola Hidatidosa (hamil anggur)
1.2 Mortalitas dan Morbiditas  (Angka kematian dan kesakitan)
Pada Mola 20% berkembang menjadi keganasan trofoblastik. Setelah terbentuk mola komplit, invasi ke uterus terjadi pada 15% pasien & metastasis terjadi pada 4% pasien. Kasus koriokarsinoma yang berkembang dari mola partial belum pernah dilaporkan, walaupun 4% pasien dengan mola parsial akan berkembang menjadi penyakit trofoblastik non metastasis persisten yang membutuhkan kemoterapi.
1.3 Etiologi
Sejauh ini penyebabnya masih belum diketahui. Diperkirakan bahwa faktor-faktor seperti gangguan pada telur, kekurangan gizi pada ibu hamil, dan kelainan rahim berhubungan dengan peningkatan angka kejadian mola. Wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas 40 tahun juga berada dalam risiko tinggi. Mengkonsumsi makanan rendah protein, asam folat, dan karoten juga meningkatkan risiko terjadinya mola.
Menurut Rustam mochtar, penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor penyebabnya adalah:
1.      Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.
2.      Imunoselektif dari tropoblast
3.      Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
4.      Paritas tinggi
5.      Kekurangan protein
6.      Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

1.4  Patofisiologi
Karakteristik mola adalah adanya konseptus jaringan trofoblastik hiperplastik yang tertanam pada plasenta. Hasil konsepsi ini tidak memiliki inner cell mass. Jika terjadi gangguan pada saat embryonic inner cell mass yang seharusnya berpotensi untuk berdiferensiasi menjadi lapisan ektoderm, mesoderm dan endoderm, maka perubahan tersebut gagal dan terjadilah pembentukan trofoblas yang akan berkembang menjadi sitotorofoblas dan sisitiotrofoblas, dan masih mampu untuk membentuk ekstraembrionik mesoderm yang akhirnya akan membentuk vesikel dari mola dengan mesoderm yang longgar pada inti villinya.
Ada beberapa teori yang diajukan oleh Wilson Silvia untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast:
1.      Teori missed abortion.
Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
2.      Teori neoplasma dari Park.
Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.
3.      Studi dari Hertig
Lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.
1. 5 Tanda dan gejala
1.      Amenore dan tanda – tanda kehamilan
2.      Perdarahan pervaginam berulang.
Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Perdarahan kadang-kadang sedikit, kadang-kadang banyak, karena perdarahan ini pasien biasanya anemis. Biasanya perdarahan mulai terjadi pada akhir trisemester pertama atau awal trisemester kedua. Perdarahan tersebut terjadi akibat terlepasnya gelembung mola dari dinding uterus
3.      Perbesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
4.      Tidak teraba adanya janin, tidak adanya balloment, tidak ada bunyi jantung anak dan tidak nampak rangka janin pada rotgen foto.Pada mola partialis, keadaan yang jarang terjadi, dapat di ketemukan janin
5.      Hiperemisis lebih sering terjadi, lebih keras dan dan lebih lama
6.      Pre eklampsi atau eklamsi yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu(trimester I atau awal trimester II).  Gejala -gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai, peningkatan tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni)
7.      Gejala – gejala hipertitoidisme ditemukan pada 10% kasus, seperti intoleransi panas, gugup, penurunan BB yang tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab
8.      Gejala klinik mirip dengan kehamilan muda dan abortus imminens, tetapi gejala mual dan muntah berat

1. 6 Klasifikasi
Pembagian mola berdasarkan dengan adanya janin atau tidak:
1.   Mola hidatidosa komplit
Villi korion berubah menjadi massa vesikel dengan ukuran bervariasi dari sulit terlihat sehingga diameter beberapa centimeter. Histologinya memiliki karekteristik, yaitu :
·         Terdapat degenerasi hidrofik & pembengkakan stroma villi
·         Tidak ada pembuluh pada villi yang membengkak
·         Proliferasi dari epitel trofoblas dengan bermacam2 ukuran
·         Tidak adanya janin atau amnion
2.      Mola Hidatidosa parsial
Masih tampak gelembung yang disertai janin atau bagian dari janin. Umumnya janin masih hidup dalam bulan pertama. Tetapi ada juga yang hidup sampai aterm. Pada pemeriksaan histopatologik tampak di beberapa tempat villi yang edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi, sedangkan tempat lain masih banyak yang normal. Ciri histologik, terdapat jaringan plasenta yang sehat dan fetus. Gambaran edema villi hanya fokal dan proliferasi trofoblas hanya ringan dan terbatas pada lapisan sinsitiotrofoblas. Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama
1.7 Komplikasi
Bisa disertai preeklampsia pada usia kehamilan yang lebih muda
Tirotoksikosis, prognosis lebih buruk, biasanya meninggal akibat krisis tiroid
Emboli sel trofoblas ke paru, sering disertai kista lutein, baik unilateral maupun bilateral, kista menghilang jika mola sudah dievakuasi. Mola dengan kista lutein mempunyai resiko 4x lebih besar berdegenerasi.
Kriteria mola hidatidosa resiko tinggi: 
1.      Ukuran uterus lebih > 20 minggu.
2.      Umur penderita > 35 Tahun
3.      Hasil PA (kuretase) menunjukan gambaran proliferasi trofoblast berlebihan
4.      β HCG praevakuasi > 100.000 mIU/ ml (RIA/IRMA)

1.8 Pemeriksaan penunjang
1.      Pemeriksaan sonde uterus. Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta-Sison)
2.      Tes acorta sison dengan tang abortus, gelembung mols dapat dikeluarkan
3.      Pemeriksaan kadar beta hCG. Pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin
4.      Ultrasonografi menunjukkan gambaran badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janin
5.      Foto torake ada gembaraasn emboli udara
6.      Pemeriksana T3 dan T4 bila ada gejala hiotoksikosis

1.9 Diagnosis
  1. Anamnesis
Amenore/tidak haid, perdarahan pervaginam, gejala toksemia pada trimester I dan II, hipermisis gravidarum, gejala tirotoksikosis dan gejala emboli paru
2.      Pemeriksaan fisik
Uterus lebih besar dari usia kehamilan, kista lotein balotemen negatif denyut jantung janin negative
3.      Pemeriksaan penunjang 
1.10 Penatalaksanaan
Mola harus dikeluarkan seluruhnya dari dalam rahim yang biasanya dilakukan melalui tindakan dilatasi dan kuretase atau lebih dikenal sebagai kuret. Sebagai alternatif dapat digunakan obat oksitosin atau prostaglandin untuk membuat rahim berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Setelah itu tindakan kuretase tetap harus dilakukan untuk memastikan rahim sudah bersih.
Ibu harus memeriksakan darah dan air seninya secara teratur selama 1 tahun setelah dilakukannya tindakan untuk memastikan hormon hCG kembali normal dan tidak ada pertumbuhan jaringan plasenta lagi. Apabila terapi berhasil dengan baik maka wanita pada umumnya dapat kembali hamil lagi jika mereka menginginkannya. Namun penting untuk diingatkan bahwa sebaiknya wanita dengan mola tidak hamil terlebih dahulu selama 12 bulan pertama.
1.11 Terapi
1.      Perbaiki keadaan umum
Transfusi darah jika anemia atau syok. Menghilangkan penyulit seperti preeklampsia dan tirotoksikosa. Preeklamsia diobati seperti pada kehamilan biasa, tirotoksikosa diobati sesuai dengan protocol bagian penyakit dalam, antara lain dengan inderal.
2.      Pengeluaran jaringan mola (Evakuasi)
Ada dua cara, yaitu:
a.       Vacum kuretase
Setelah keadaan umum diperbaiki, dilakukan vakum kuretase tanpa pembiusan. Keluarkan jaringan mola dengan vakum kuretas dilanjutkan dengan kuret tajam. Lakukan kuretas bila tinggi fundus uterus lebih dari 20 minggu sesudah hari ketujuh. Untuk memperbaiki kontraksi, sebumnya berikan uterotonik (20-40 unit oksitosin dalam 250 cc/50 unit oksitosin dalam 500 ml NaCl 0,9%) bila tidak dilakukan vakum kuretase, dapat diambil tindakan histeroktomi.
b.      Histeroktomi
Perlu dipertimbangkan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup anak. Alas an dilakukan histerektomi adalah karena umur tua dan paritas tinggi merupakan factor predisposisi untuk terjadinya keganasan. Batasan yang dipakai ialah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga
3.      Profilaksis dengan sitostatika
Terapi proflaksis dengan sitostatik metroteksat atau aktinomisin D pada kasus dengan resiko keganasan tinggi seperti umur tua dan paritas tinggi yang menolak dilakukan histerektomi.
4.      Pemeriksaan tindak lanjut (Follow up)
Pemeriksaan ginekologi, radiologi dan kadar Beta HCG lanjutan untuk deteksi dini keganasan. Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola. Yang paling banyak dalam 6 bulan pertama, pemeriksaan kadar Beta HCG tiap minggu sampai kadar menjadi negatif selama 3 minggu lalu tiap bulan selama 6 bulan pemeriksaan foto toraks tiap bulan sampai kadar Beta HCG negative.